Ibnul Qoyyim Rahimatulullah mengatakan “suatu keuntungan, kebaikan, kenikmatan, kesempurnaan, semuanya tak akan diperoleh kecuali dengan merasakan kesulitan. Takkan bisa dicapai kecuali melewati jembatan keletihan. Semua orang cerdik pandai sepakat bahwa kenikmatan tidak didapati melalui kenikmatan. Dan bahwa orang yang lebih mengutamakan istirahat, kelak akan kehilangan istirahat. Dan bahwa kebahagiaan dan kenikmatan itu tergantung sejauh mana seseorang melewati kengerian dan memikul beban dalam memperolehnya. Tak ada kebahagiaan bagi orang yang tak memiliki obsesi untuk bahagia. Tak ada kelezatan bagi orang yang tak bersabar memperolehnya. Tak ada kenikmatan bagi orang yang tidak mau berkorban untuk kenikmatan, tidak ada istirahat bagi orang yang tak mau berletih-letih untuk istirahat”

Hal tersebut menunjukkan bahwa berjuang dan perjuangkanlah untuk menggapai apa yang ingin kau capai, untuk meraih apa yang ingin kau raih, dan untuk mencapai semua itu, maka teruslah bergerak. Bergerak dengan perlahan namun pasti, bersabar dan terus tegar. “Wajib bagi seseorang yang cerdas untuk berusaha menggapai puncak yang bisa ia capai. Andaikata anak adam bisa membayangkan bahwa ia sanggup ke langit maka anda akan melihat bahwa diamnya ia di bumi adalah perkara yang sangat dibenci” (Ibnu Jauzi)


Bergeraklah…
Alam mengajarkan kita untuk senantiasa bergerak agar tercipta sebuah kesempurnaan sebagaimana fungsinya ia diciptakan. Sebagaimana air, apabila ia terus tergenang dalam sebuah wadah, maka ia akan jauh dari sebuah nilai kebermanfaatan dan kenikmatan, karena menimbulkan beragam jentik-jentik penyakit didalamnya.

"Menjadi ada adalah karunia, sebab kita tidak dapat mengadakan diri kita sendiri. Tapi menjadi ada saja tidaklah cukup, kita ada karena diperintahkan untuk memiliki makna” (Ahmad Zairofi).

Begitulah hakikat sebuah kebermaknaan dalam penciptaan, untuk terus bergerak menghadirkan kebermanfaatan dan perubahan.


Sebagaimana bumi dan matahari yang tak pernah malas untuk bergerak. ia terus berputar pada porosnya sehingga tercipta keseimbangan alam galaksi bima sakti. “Dan matahari berjalan di tempat peredarannya…”(QS.36:38).


Sebagaimana pula dalam sebuah siklus hidrologi, uap air pun terus bergerak, “Tidakkah engkau melihat bahwa Allah menjadikan awan bergerak perlahan, kemudian mengumpulkannya, lalu Dia menjadikannya bertumpuk-tumpuk, lalu engkau lihat hujan keluar dari celah-celahnya…” (QS.24 : 43)

Bergerak adalah Keberkahan...
Mukmin yang cerdas adalah mukmin yang senantiasa mampu mengendalikan diri dan menata dirinya untuk hari esok. Sebagaimana ditegaskan oleh Rasulullah saw pada salah satu hadits, bahwa hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, jika hari ini sama dengan hari kemarin, maka kita termasuk dalam golongan orang-orang yang merugi. Dan dalam firmanNya, "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan" (QS.Al Hasyr:18).

Bagaimana mungkin kita mampu menjadi pribadi yang lebih baik dan bermanfaat jika enggan untuk bergerak?

Maka,
Teruslah bergerak, agar mampu menghasilkan sebuah kebermaknaan dalam penciptaan.

Let’s Fastabiqul Khairat…
Bergeraklah untuk terus berbagi dengan apa yang telah IA beri !


Disadur dari artikel berjudul : BERGERAK ADALAH KEBERKAHAN ! Karya : Meylina Hidayanti.

Referensi :
  1. http://www.lenteracentre.com