Janji. Saya yakin semua orang pasti pernah berjanji. Terlepas dari ditepati atau tidak, dengan demikian memperlihatkan bahwa janji itu jaraknya sangat dekat dengan mulut kita. Permasalahan janji itu muncul bukan karena menepati janji, tapi justru karena ingkar terhadap janji yang sudah dibuat.

Kesempatan kali ini saya mencoba kembali mengingatkan, bahwa janji itu adalah sebuah hal yang penting untuk ditepati. Janji adalah hutang. Hutang itu harus dibayar. Bagaimana kalau masalahnya membayar hutang ini ternyata bukan terletak pada objek bayarannya, tapi lebih pada kesempatan yang sudah lewat begitu saja karena ketidakcermatan kita untuk menepati janji. Bingung ?

Begini, kalau saja janji itu adalah hutang yang harus dibayar, kemudian setelah kita berjanji ternyata kita akhirnya ingkar, maka akan ada diantara kita yang kemudian berpikir, “okelah, suatu saat pasti gw gw bayar”. Suatu saat ? Kapan ? Bagaimana kalau kesempatan membayar hutang itu memang cuma datang sekali ? Saat tiba waktunya menepati janji itu ? (Bingung juga? Wah…kalau begitu kesalahan ada disaya, tidak bisa mengungkapkan maksud sebenarnya, ahahahaha)

sebagaimana hadits nabi :

حدثنا ابن سلام حدثنا اسماعيل بن جعفر عن ابي سهيل عن نافع بن مالك بن عامر عن ابيه عن ابي هريرة. أن رسول الله صلعم

قال: أية المنا فقين ثلاث. اذاحدث كذب اذا وعد أخلف اذائتمن خان.(صحيح بخاري.صحيفه.65:4)

Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga macam. Apabila berkata ia dusta, Apabila berjanji ia ingkar, Apabila di percaya ia khianat. HR. Bukhori. hal:65, juz : 4

Untuk kita yang beragama Islam tentu sudah tidak asing dengan hadist ini bukan ? (Kebangetan kalu ada yang tidak tahu, he..he..!) Agama lain pun saya yakin pengajarkan hal yang sama tentang janji. Bahwa setiap janji yang terucap harus ditepat, dengan berbagai usaha. Saya tidak bermaksud mengulas banyak isi hadist tersebut, saya hanya mengingatkan saja.

Ini tentang apa sih ? Kok berkutat terus menerus dipersoalan janji ? Ok…sebenarnya begini, saya sedang ada masalah dengan janji (ujung-ujungnya ini masalah elo ? basi lo ah…ahahahaha). Saya dengan jujur mengatakan bahwa saya sangat ingin sekali datang ke acara kumpul bareng Seribu tangan Cinta yang diadakan di TIM, siang ini. Masalahnya adalah ternyata saya tidak bisa memaksakan untuk datang karena besok (minggu/11) ada janji lain yang tidak bisa saya tinggalkan.

Teman saya bilang saya harus berpikir skala prioritas donk tentang janji. Lama saya berpikir tentang hubungan antara janji dan skala prioritas, tapi ujung-ujungnya tidak juga menemukan solusi tentang keinginan saya berangkat ke Jakarta. Saya berpandangan (buset…bahasanya, udah kayak caleg aja gw..) tidak adil rasanya kalau ada diantara kita ada yang membenturkan janji dengan skala prioritas. Kenapa ? Baca di paragraf selanjutnya. (ahahaha…gw pengen ngelawak).

Ternyata banyak ya…fenomena janji dibenturkan dengan skala prioritas. Atas dasar skala prioritas, maka janji lain yang bahkan sudah lama diagendakan akan begitu saja ditunda atau dibatalkan demi janji lain yang katanya lebih menjanjikan. Benarkah sika-sikap seperti itu? Entahlah…sekali lagi untuk saya itu berlebihan. Kenapa? Temukan jawabannya di paragraf selanjutnya. (ahahaha…lagi-lagi gw ngelawak)

Buat saya, janji yang satu sama pentingnya dengan janji yang lain. Tidak bisa begitu saja ditunda atau dibatalkan. Kalau kita kembali pada pengertian janji adalah hutang, dan pada kesempatan yang sama kita membatalkan janji yang satu dengan alasan ada yang lebih penting (lagi-lagi ini tentang skala prioritas), maka sudah barang tentu pada kemudian hari kita harus menepati janji itu. Masalahnya adalah, apakah kita masih punya kesempatan untuk menepati janji ? Bagaimana kalau seandainya 1 menit setelah kita melaksanakan agenda yang lebih penting itu kita meninggal alias mati ? Maka jawabannya adalah kita akan punya hutang. Itu kalau yang ditunda atau dibatalkan itu 1 janji, bagaimana kalau yang ditunda atau dibatalkan itu banyak ? Wah…jadilah kita sie penghutang janji.

Melihat pandangan saya tentang janji di atas, maka kesempatan kali ini saya gunakan untuk minta maaf yang sebesar-besarnya karena saya tidak bisa ikut ngumpul ngariung di acara STC di Jakarta. Hal ini lebih karena saya sudah punya janji yang mungkin nilainya tidak lebih penting dari pertemuan STC. Tapi, sekali lagi, bicara janji buat saya bukanlah soal penting atau tidak penting, tapi bicara janji adalah bicara hutang, dan hutang harus dibayar secepatnya, takut pada akhirnya tidak bisa membayar hutang karena keburu meninggal.

Semoga setelah tulisan ini di publish tidak ada diantara teman-teman yang kemudian berkomentar “nggak penting juga gitu lo dateng di STC” ahahahaha. Salaam hangat selalu saja, dari saya.

Salam janji.

sumber :

  1. http://edukasi.kompasiana.com